Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Ketersediaan beras menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Balikpapan di tengah pergerakan harga pangan yang masih terjadi di pasaran.
Namun, dari sisi stok, kondisi beras di Balikpapan dipastikan masih aman. Saat ini, sekitar 1.300 ton beras tersimpan di Bulog dan diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Desember 2026.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan Haemusri Umar mengatakan, pemerintah terus memantau kondisi stok dan distribusi beras untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Kalau stok beras itu ada sampai dengan Desember,” kata Haemusri saat diwawancarai, Selasa (29/9/2026).
Menurut Haemusri, keberadaan stok di Bulog menjadi salah satu penyangga ketersediaan beras di Balikpapan. Selain itu, pemerintah juga tetap mengandalkan peran distributor dalam menjaga pasokan beras di pasar.
Distributor memiliki jalur distribusi yang berbeda dengan mekanisme pengadaan yang dilakukan pemerintah. Karena itu, keberadaan distributor tetap diperlukan untuk memastikan beras dapat tersedia hingga tingkat pedagang.
“Kita hanya memanfaatkan peran daripada distributor-distributor untuk melakukan kegiatan pengadaan pangan,” ujarnya.
Di sisi lain, Dinas Perdagangan juga melakukan pemantauan terhadap harga beras yang beredar di pasaran. Pengawasan dilakukan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan adanya perubahan harga di tingkat distributor maupun pedagang.
Haemusri mengatakan, distributor perlu dapat menunjukkan proses pengadaan dan distribusi barang. Mulai dari pengambilan produksi, proses pengiriman hingga beras tersebut sampai kepada pedagang.
Informasi tersebut diperlukan pemerintah sebagai bahan untuk melihat rantai distribusi sekaligus komponen biaya yang memengaruhi harga beras.
“Yang penting dia bisa membuktikan terkait mulai dari pengambilan produksi, kemudian distribusi sampai dengan diberikan kepada pedagang. Itu bisa menjadi acuan pemerintah,” jelasnya.
Terkait harga, Haemusri menyebut perubahan harga beras tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan stok. Ada sejumlah biaya yang turut membentuk harga sebelum beras sampai kepada masyarakat.
Di antaranya biaya produksi, ongkos logistik, serta biaya distribusi.
“Persoalannya karena pengaruh biaya produksi, kemudian ongkos-ongkos logistik, kemudian ongkos-ongkos sehingga memengaruhi nilai daripada harga beras itu sendiri,” tuturnya.
Pemerintah tetap memberikan toleransi terhadap perubahan harga sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, kenaikan harga di luar batas yang diperbolehkan akan menjadi perhatian dalam pengawasan pemerintah.
Dengan stok sekitar 1.300 ton di Bulog, Pemkot Balikpapan memastikan ketersediaan beras hingga Desember tetap terjaga. Pemerintah juga terus mengawasi jalur distribusi agar pasokan tetap lancar dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. (ADV/Diskominfo Balikpapan)
Tulis Komentar