Poronusantaranews,KUTAI KARTANEGARA – Rangkaian Erau Adat Kutai 2026 yang telah digelar tidak hanya menghadirkan kembali berbagai tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang diperingati tiap tahu . Bagi Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri, nilai yang terkandung di dalamnya juga dapat menjadi cermin bagi pemerintah dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Salah satu nilai yang disorot Aulia adalah hubungan antara Sultan dan rakyat. Tema Erau tahun ini, “Manunggal Raja Bersama Rakyatnya, Raja Menjamu Rakyatnya”, menurutnya mengandung pesan tentang kedekatan pemimpin dengan masyarakat.
“Raja menjamu rakyatnya itu memberikan pelayanan. Sultan memberikan contoh kepada kita pemerintah, Forkopimda, bahwa kita ini adalah pelayan masyarakat,” kata Aulia, Selasa (29/9/2026).
Menurutnya, posisi pemerintah dalam kehidupan masyarakat pada dasarnya adalah memberikan pelayanan. Karena itu, jabatan dan kewenangan tidak seharusnya menciptakan jarak antara aparatur dengan warga yang dilayani.
Aulia menilai nilai tersebut relevan dengan tuntutan pemerintahan saat ini. Masyarakat tidak hanya membutuhkan program pembangunan, tetapi juga membutuhkan pemerintah yang mampu mendengar, merespons dan memberikan pelayanan secara langsung.
Keteladanan Sultan, kata dia, dapat dimaknai dalam konteks kekinian tanpa harus mengubah substansi tradisi. Nilai yang diwariskan melalui kebudayaan dapat diterjemahkan ke dalam sikap pemerintahan modern. Hal itu menjadi penting karena pemerintah memiliki banyak fungsi yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga.
"Mulai dari administrasi kependudukan, kesehatan, pendidikan, infrastruktur hingga berbagai pelayanan sosial dan ekonomi," jelas Aulia.
Aulia ingin aparatur pemerintah memahami bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak program yang dilaksanakan. Kualitas interaksi pemerintah dengan masyarakat juga menjadi bagian dari keberhasilan tersebut.
Semangat “Raja Menjamu Rakyatnya” kemudian ditempatkan sebagai pengingat bahwa pemimpin harus hadir di tengah masyarakat. Pemerintah perlu mengetahui persoalan yang dihadapi warga agar kebijakan dan pelayanan yang diberikan tidak berhenti pada tataran administratif.
“Kalau Sultan bisa memberikan contoh bagaimana menjamu rakyatnya, maka kita sebagai pemerintah harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Bagi Aulia, nilai tersebut menjadi salah satu cara menghubungkan tradisi dengan penyelenggaraan pemerintahan. Erau tetap menjadi ruang pelestarian adat, tetapi nilai yang dikandungnya juga dapat menjadi refleksi bagi pemimpin dan aparatur pemerintahan.
Dengan demikian, keteladanan Sultan tidak berhenti sebagai bagian dari sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara. Nilainya dapat diterjemahkan dalam konteks pemerintahan modern melalui sikap melayani, mendekatkan pemerintah dengan masyarakat dan memastikan warga memperoleh pelayanan yang layak.
“Intinya bagaimana pemerintah itu hadir, bagaimana pemerintah melayani masyarakat dengan baik, dan bagaimana masyarakat merasa dilayani oleh pemerintah,” pungkas Aulia. (Adv)
Tulis Komentar