Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Dua tahun sudah anggota DPRD Kota Balikpapan periode 2024–2029 menjalankan amanah masyarakat sejak dilantik pada 25 Agustus 2024. Bagi Sekretaris Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Arisanda, masa tersebut menjadi bagian dari perjuangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat benar-benar diwujudkan melalui kebijakan dan pembangunan.
Politisi PPP yang juga berasal dari Daerah Pemilihan (Dapil) Balikpapan Barat itu menegaskan prinsip yang selama ini dipegangnya dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
“Terus, aku adalah rakyat, rakyat adalah aku,” tegas Arisanda saat ditemui, pada Kamis (27/8/2026).
Arisanda menilai, pembangunan yang selama ini diperjuangkannya bukan semata-mata hasil kerja pribadi. Sebagai anggota legislatif, dirinya lebih banyak berperan dalam memperjuangkan dan mengawal agar program yang dibutuhkan masyarakat dapat masuk dalam kebijakan pembangunan.
“Saya pribadi itu, Mas. Bukan kami yang membangun sebenarnya, bukan Arisanda yang membangun, tapi memperjuangkan,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembangunan Rumah Sakit Balikpapan Barat. Arisanda yang juga tergabung dalam Badan Anggaran (Banggar) DPRD Balikpapan menyebut pembangunan rumah sakit tersebut kembali diperjuangkan setelah sebelumnya sempat dihentikan.
“Contohnya Rumah Sakit Balikpapan Barat. Hari ini kami berhasil menganggarkan kembali untuk dibangunnya lagi Rumah Sakit Balikpapan Barat yang pernah terjadi penghentian pada waktu itu,” katanya.
Dia menyebut, jika tidak ada kendala, pembangunan rumah sakit tersebut akan kembali dilaksanakan pada 2027. Menurutnya, perjuangan hingga sebuah program dapat kembali masuk dalam penganggaran tidaklah mudah karena membutuhkan dinamika pembahasan di internal legislatif.
“Tapi alhamdulillah di 2027 insya Allah akan dibangun kembali. Itu kan tidak mudah dalam berjuang, berdinamika di dalam penganggarannya,” jelasnya.
Selain rumah sakit, pembangunan fasilitas pendidikan juga menjadi bagian dari perhatian terhadap Balikpapan Barat. Arisanda menyebut sejumlah kebutuhan masyarakat yang sebelumnya menjadi kekurangan kini mulai direalisasikan, termasuk pembangunan sekolah.
Menurut dia, kondisi Balikpapan Barat masih tertinggal dibandingkan sejumlah wilayah lain di Balikpapan. Karena itu, pembangunan di kawasan tersebut perlu digenjot agar ketertinggalan yang telah berlangsung selama sekitar 15 tahun dapat dikejar.
“Artinya, apa yang menjadi kekurangan pada hari ini kami optimalisasikan. Kami tidak akan terus berhenti,” tegasnya.
Arisanda menyebut dirinya bersama jajaran terkait berupaya mendorong pembangunan di seluruh wilayah Dapil Balikpapan Barat. Targetnya, fasilitas dan infrastruktur yang ada di Balikpapan Selatan, Balikpapan Kota, Balikpapan Utara maupun Balikpapan Timur dapat pula dirasakan masyarakat Balikpapan Barat.
“Kami gas sekencang-kencangnya bagaimana 15 tahun yang ketinggalan itu paling tidak bisa menyamai pada hari ini dengan kota, dengan selatan, dengan utara,” ujarnya.
Menurut Arisanda, ketertinggalan suatu wilayah tidak terlepas dari kebijakan pimpinan pemerintahan pada masa sebelumnya. Ia menilai, setiap pemimpin tentu memiliki perhatian dan prioritas masing-masing terhadap wilayah yang dipimpinnya.
Dia mencontohkan wilayah Balikpapan Utara yang menurutnya mendapat perhatian ketika dipimpin sosok yang memiliki latar belakang dan keterikatan kuat dengan kawasan tersebut.
“Pasti kebijakan pucuk pimpinan pada hari itu. Bukan dari Barat. Baru kali ini dari Barat dua periode terakhir ini,” katanya.
Arisanda menyebut keberadaan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud dan Ketua DPRD Balikpapan Alwi Al Qadri yang sama-sama memiliki keterkaitan dengan Balikpapan Barat menjadi momentum untuk mendorong percepatan pembangunan di kawasan tersebut.
“Alhamdulillah Barat muncul sosok langsung, Pak RM jadi Wali Kota, Pak Alwi jadi ketua DPRD. Ini yang kita harus push, paling tidak setara, bisa menyamai infrastruktur apa yang ada di Selatan, apa yang ada di Kota, apa yang ada di Timur,” jelasnya.
Dia berharap berbagai kekurangan infrastruktur di Balikpapan Barat dapat diselesaikan dalam periode lima tahun pertama.
“Yang tidak ada di Barat, ini harus kita tuntaskan. Mudah-mudahan selesai lima tahun periode pertama saya,” harapnya.
Sejumlah capaian pembangunan, kata Arisanda, sudah mulai terlihat. Fasilitas pendidikan menjadi salah satu contoh. Selain sekolah yang telah terbangun, SMP 25 di Pemukiman atas air Balikpapan Barat juga disebut telah direalisasikan.
“Sekolah sudah terbangun. SMP 25 yang di Balikpapan Barat juga sudah terbangun,” ujarnya.
Kendati demikian, pembangunan Rumah Sakit Balikpapan Barat masih menjadi pekerjaan besar yang menurutnya harus terus dikawal hingga benar-benar terealisasi.
“Ini tinggal rumah sakit yang butuh konsen. Harus kita kejar itu, Bang. Harus dikawal bagus-bagus itu,” katanya.
Ke depan, Arisanda juga membuka peluang untuk mendorong revitalisasi sejumlah kawasan, termasuk kawasan Kebun Sayur dan pasar Pandan Sari, sebagai bagian dari upaya menggerakkan pembangunan di kawasan yang dinilainya masih tertinggal.
“Siapa tahu bisa revitalisasi kembali. Revitalisasi Pandan Sari, harapannya itu yang kita akan kebut terus. Pembangunan-pembangunan jadi sentral kota tua yang pada hari ini ketinggalan banget,” tuturnya.
Arisanda mengaku telah memiliki catatan pribadi mengenai sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan selama periode 2024–2029. Dari target tersebut, sekitar 40 persen disebut sudah berjalan.
“Ada di buku diary saya itu catatan apa yang harus saya lakukan untuk 2024–2029. Alhamdulillah sudah 40 persen sudah berjalan,” ungkapnya.
Selain infrastruktur dan fasilitas umum, persoalan lingkungan juga menjadi perhatian. Arisanda menyebut pihaknya ingin mendorong pembangunan ruang terbuka hijau di Balikpapan Barat. Namun, keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan.
“Kami ingin membangun sebenarnya ruang lingkungan hijau. Itu yang kita konfirmasikan apakah kita cari lahan yang agak jauh, misalnya di Kemuning Ujung, di pembebasan. Tapi memang sulit, medannya sangat sulit, tidak ada lagi ruang,” katanya.
Persoalan sampah juga menjadi tantangan tersendiri bagi Balikpapan Barat. Kondisi geografis wilayah yang didominasi perbukitan sekaligus memiliki kawasan pesisir membuat penanganannya tidak mudah.
“Barat itu kan daratannya gunung, bukit, dan separuhnya pesisir. Jadi, dalam penanganan sampah juga itu agak sulit,” ujarnya.
Menurut Arisanda, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Kondisi permukiman yang berdekatan menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan sampah.
“Yang pertama, kesadaran diri sendiri itu agak sulit. Karena pemukimannya itu kan berdekat-dekatan. Itu bagi kami tantangan sih sebenarnya,” jelasnya.
Karena itu, edukasi dan pemberdayaan masyarakat dinilai penting. Arisanda menyebut pihaknya telah berdiskusi dengan kelurahan dan posyandu untuk mendorong berbagai program berbasis lingkungan, termasuk pengumpulan sampah yang dapat ditukar dengan bentuk insentif tertentu.
“Kemarin tuh ngobrol dengan kelurahan sama posyandu yang banyak program, kayak pengumpulan sampah itu ditukar dengan klin,” pungkasnya. (mto)
Tulis Komentar