Iklan Dua

Ziarah ke Makam Aji Imbut, 244 Tahun Tenggarong Ajak Generasi Sambung Sejarah

$rows[judul]

Porosnusantaranews,KUTAI KARTANEGARA – Peringatan 244 tahun Kota Tenggarong tidak hanya berlangsung di ruang sidang. Sebelum Sidang Paripurna Istimewa digelar, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura lebih dahulu mendatangi makam Sultan Aji Imbut dan sejumlah Sultan lainnya.


Ziarah yang berlangsung Senin (28/9/2026) itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Tenggarong. Bagi Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, makam para pendahulu menjadi ruang untuk melihat kembali dari mana kota tersebut bermula.


“Kita hadir di makam Aji Imbut dan para Sultan untuk mengingat dari mana Kota Tenggarong berasal, memahami nilai yang diwariskan para pendahulu, sekaligus merenungkan tanggung jawab kita dalam menentukan masa depan kota ini,” ujar Aulia.


Nama Aji Imbut dalam sejarah Tenggarong tidak dapat dipisahkan dari peristiwa 28 September 1782. Saat itu, Aji Imbut yang bergelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dari Pemarangan menuju Tepian Pandan. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Tenggarong melalui Perda Kabupaten Kutai Nomor 5 Tahun 1997.


Perpindahan tersebut memiliki cerita yang cukup panjang. Sumber sejarah Kemendikdasmen mencatat bahwa sebelum menuju Tepian Pandan, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara berada di Pemarangan. Aji Imbut kemudian berpindah bersama rombongannya ke Tepian Pandan yang saat itu merupakan permukiman masyarakat Kedang Lampong.


Menariknya, Tepian Pandan kemudian diberi nama Tangga Arung yang berarti “rumah raja”. Nama tersebut dalam perkembangan sejarah berubah menjadi Tenggarong dan bertahan hingga sekarang.


Sejumlah catatan sejarah juga menggambarkan Aji Imbut sebagai tokoh yang sebelumnya berhasil merebut kembali pusat pemerintahan di Pemarangan pada 1780 sebelum kemudian memindahkan ibu kota ke lokasi baru dua tahun setelahnya. Perpindahan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Kesultanan Kutai Kartanegara.


Karena itu, ziarah yang dilakukan setiap momentum Hari Jadi Tenggarong mempunyai konteks yang lebih panjang daripada sekadar agenda seremonial. Tradisi ziarah serupa juga tercatat dalam peringatan Hari Jadi Tenggarong pada tahun-tahun sebelumnya. Pada salah satu peringatan, ziarah dilakukan ke makam Aji Imbut serta sejumlah Sultan lainnya dan disebut sebagai momentum untuk mengambil hikmah dari keteladanan para pendahulu.


Aulia menilai perjalanan sejarah tersebut harus menjadi pijakan ketika generasi sekarang membicarakan masa depan kota. Menurutnya, modernisasi tidak harus membuat Tenggarong meninggalkan identitas sejarah yang melekat sejak awal berdirinya.


“Hari ini kita memperingati Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244, sesungguhnya yang kita peringati bukan hanya bertambahnya usia sebuah kota, melainkan kita memperingati perjalanan sebuah peradaban,” tuturnya.


Dalam konteks itu, keberadaan makam Aji Imbut menjadi pengingat bahwa Tenggarong tidak lahir dalam satu malam. Kota tersebut merupakan hasil dari keputusan politik, perpindahan pusat pemerintahan, interaksi masyarakat serta proses panjang pembentukan kehidupan sosial dan kebudayaan.


Aulia kemudian menarik perjalanan tersebut ke generasi sekarang. Jika Aji Imbut pernah mengambil keputusan untuk membuka babak baru dengan memindahkan pusat pemerintahan, generasi saat ini juga memiliki tanggung jawab untuk menentukan seperti apa Tenggarong akan diwariskan kepada generasi berikutnya.


“Kita tidak perlu mempertentangkan sejarah dengan modernitas. Keduanya harus berjalan bersama,” jelas Aulia.


Bagi pemerintah daerah, pesan tersebut menjadi bagian dari refleksi Hari Jadi ke-244. Tenggarong dapat berkembang sebagai kota modern, tetapi perkembangan itu tetap memiliki hubungan dengan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara dan kebudayaan yang tumbuh di dalamnya.


“Aji Imbut memiliki keberanian untuk membuka babak baru dengan pusat pemerintahan yang dipindahkan ke Tepian Pandan. Para Sultan setelahnya melanjutkan pembangunan dan memperkuat peradaban Tenggarong. Kini giliran kita,” pungkasnya. (Adv)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)