Iklan Dua

KukarGO dan Arbizz Space Didorong Jadi Satu Ekosistem Pemasaran UMKM

$rows[judul]

Porosnusantaranews.com, KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) didorong memperkuat keterhubungan antara KukarGO dan Arbizz Space agar fasilitas pemasaran UMKM tidak sekadar menjadi sarana promosi, tetapi mampu menghasilkan transaksi dan meningkatkan pendapatan pelaku usaha.

Kedua fasilitas tersebut memiliki fungsi yang saling melengkapi. Arbizz Space di kawasan Taman Pujasera Tenggarong menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk menawarkan produk secara langsung, sedangkan KukarGO menyediakan akses pemasaran digital yang memungkinkan produk lokal dikenal lebih luas tanpa dibatasi jangkauan lokasi usaha.

Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, menilai pengembangan keduanya perlu diarahkan dalam satu sistem pemasaran. Menurutnya, keberadaan ruang usaha fisik dan platform digital seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dalam mempertemukan produk UMKM dengan konsumen.

“Jangan sampai Arbizz Space dan KukarGO hanya menjadi dua fasilitas yang berjalan masing-masing. Keduanya harus terhubung dalam satu ekosistem pemasaran sehingga produk UMKM bisa dipasarkan secara langsung maupun melalui platform digital,” ujarnya, Kamis (30/10/2026)

Aulia mengatakan, integrasi tersebut penting agar pelaku usaha mendapatkan lebih banyak pilihan dalam menjangkau pembeli. Konsumen yang datang ke Arbizz Space dapat mengenal produk secara langsung, sementara masyarakat yang berada di luar kawasan tetap bisa mengakses informasi produk melalui KukarGO.

“Arbizz Space bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat dan membeli produk lokal. Sementara KukarGO memperluas jangkauan pemasaran agar produk-produk tersebut bisa dikenal oleh konsumen yang lebih luas,” katanya.

Dari sisi operasional, Arbizz Space telah menyediakan 58 tenant dan seluruh tempat usaha tersebut dilaporkan telah terisi. Namun, data operasional yang dipublikasikan pada awal Oktober 2026 mencatat baru 54 tenant menjalankan usaha, sedangkan empat lainnya masih dalam proses rehabilitasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keterisian tempat perlu diikuti dengan kesiapan operasional agar fasilitas tersebut benar-benar produktif.

Di sisi lain, KukarGO masih memiliki ruang pengembangan, terutama dalam memperkuat fungsi transaksional. Platform tersebut pada tahap awal berperan sebagai katalog digital yang menampilkan produk dan profil UMKM. Konsumen dapat melihat informasi produk, kemudian menghubungi penjual secara langsung, termasuk melalui WhatsApp.

Aulia menilai pengembangan digitalisasi UMKM tidak boleh berhenti pada penyediaan ruang promosi. Kemudahan menemukan produk harus diikuti dengan kemudahan melakukan pembelian, termasuk melalui dukungan sistem pembayaran digital.

“Yang ingin kita bangun bukan sekadar tempat untuk memajang produk. Kita ingin bagaimana produk UMKM benar-benar ditemukan konsumen, dibeli, dan pada akhirnya memberikan tambahan pendapatan bagi pelaku usaha,” tegasnya.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemkab Kukar telah menjalin komunikasi dengan Bankaltimtara guna menjajaki pengembangan sistem pembayaran pada KukarGO. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat layanan platform sekaligus mempermudah proses transaksi antara konsumen dan pelaku usaha.

“Kita ingin KukarGo menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, memperkenalkan produk lokal, serta meningkatkan pendapatan UMKM,” ungkap Aulia.

Namun, Kata Aulia, integrasi sistem tetap harus diimbangi kesiapan pelaku usaha. Pembaruan katalog, kualitas foto produk, kejelasan harga, informasi ketersediaan barang, kemasan, hingga keaktifan kontak penjual menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Tanpa pengelolaan tersebut, platform digital berisiko hanya menjadi etalase yang jarang diperbarui.

Aulia menegaskan, penguatan UMKM membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, perbankan, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, media, hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengembangan pemasaran tidak hanya bertumpu pada penyediaan fasilitas, tetapi juga pendampingan dan keberlanjutan usaha.

“Pengembangan UMKM tidak bisa dikerjakan pemerintah sendiri. Harus ada kolaborasi dengan perbankan, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat agar pelaku usaha mendapatkan dukungan yang dibutuhkan,” jelasnya.

Aulia menegaskan, keberhasilan KukarGO dan Arbizz Space pada akhirnya perlu diukur melalui dampak yang dihasilkan. Jumlah tenant yang benar-benar aktif, produk yang rutin dipasarkan secara digital, jangkauan konsumen, jumlah transaksi, hingga perkembangan omzet menjadi indikator penting untuk melihat efektivitas kedua fasilitas tersebut.

Dengan demikian, pengembangan KukarGO dan Arbizz Space diharapkan tidak berhenti pada penambahan fasilitas maupun jumlah pelaku usaha yang terdaftar. Lebih dari itu, keduanya harus mampu membangun jalur pemasaran yang berkelanjutan.

"Agar produk UMKM Kukar memiliki akses pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi nyata bagi pelakunya," tutup Aulia. (Adv)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)