Porosnusantaranews.com, KUTAI KARTANEGARA – Pengalaman wisata yang semakin beragam dapat menciptakan kebutuhan terhadap layanan pendukung di sekitar destinasi. Kondisi ini menjadi peluang bagi masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk mengembangkan usaha penyewaan pakaian adat hingga jasa fotografi, terutama jika pengembangan wisata budaya semakin digencarkan.
Tenaga Ahli Pendamping Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan DiskopUKM Kukar, Agus Sriyani, menilai aktivitas pariwisata dapat memberikan ruang bagi masyarakat untuk menciptakan jenis usaha baru.
Menurutnya, wisata budaya memiliki potensi ekonomi yang tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan objek wisata, tetapi juga berbagai layanan yang dibutuhkan pengunjung selama menikmati destinasi.
“Kalau pariwisata budaya, itu luar biasa dan menarik. Itu juga bisa jadi salah satu peluang untuk UMKM kita, masalah fotografer misalnya, itu kan juga jasa,” ujar Sriyani, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, jasa fotografi dapat menjadi salah satu pilihan usaha karena wisatawan umumnya ingin mengabadikan momen ketika mengunjungi tempat-tempat yang memiliki daya tarik budaya. Kebutuhan tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat yang memiliki kemampuan di bidang fotografi.
Peluang lainnya adalah penyewaan pakaian adat. Usaha ini dapat menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan sekaligus menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya lokal melalui pakaian tradisional.
“Misalnya melihat potensi penyewaan baju adat, itu juga sebuah peluang menarik untuk sektor UMKM,” tuturnya.
Sriyani mengatakan, peluang seperti ini perlu mulai dibaca oleh masyarakat, terutama mereka yang ingin merintis usaha di sekitar kawasan wisata. Kehadiran berbagai layanan pendukung akan membuat aktivitas ekonomi di destinasi tidak hanya terpusat pada satu jenis usaha.
Ia mengungkapkan, peluang tersebut sejalan dengan pembahasan pengembangan pariwisata budaya bersama Dinas Pariwisata Kukar. Rencana peningkatan sektor tersebut dinilai dapat menjadi momentum bagi pelaku UMKM untuk memperluas jenis usaha.
“Kami sempat diskusi dengan Dinas Pariwisata, katanya sih sektor pariwisata budaya bakal dinaikkan, itu menarik tentunya untuk geliat UMKM,” ungkapnya.
Lebih jauh, Sriyani mengingatkan bahwa masyarakat tidak perlu membatasi pemahaman UMKM hanya pada usaha yang menghasilkan barang. Berbagai layanan yang dijalankan secara mandiri dan menghasilkan pendapatan juga memiliki ruang untuk tumbuh dalam ekosistem kewirausahaan.
“UMKM itu kan orang yang berwirausaha. Apa yang diupayakan untuk mendapatkan income keuangan itu juga masuk di UMKM. Cuma skalanya saja yang membedakan,” jelasnya.
Meski demikian, pengembangan usaha jasa tetap membutuhkan kesiapan pelaku usaha, terutama dalam hal keterampilan dan kualitas pelayanan. Hal tersebut diperlukan agar peluang yang muncul dari aktivitas pariwisata dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Sriyani berharap masyarakat mampu menangkap potensi tersebut sejak dini. Semakin banyak jenis usaha yang tumbuh di sekitar destinasi wisata, semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk terlibat dalam perputaran ekonomi daerah.
"Agar pertumbuhan sektor pariwisata dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat," tutupnya. (Adv)
Tulis Komentar