Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Peta politik Balikpapan pasca-era Wali Kota Rahmad Mas’ud mulai menghangat. Nama-nama baru bermunculan. Namun, dari sekian figur yang disebut-sebut, ada satu nama yang menarik untuk dicermati lebih dalam: H Yusri.
Nama H Yusri memang belum sepopuler Hj. Nurlena Rahmad Mas’ud dalam bursa politik yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya Instagram. Tetapi justru di situlah menariknya.
Dalam politik, figur yang belum terlalu banyak disebut bukan berarti tidak memiliki nilai tawar. Bisa jadi, justru sedang menunggu momentum.
Nurlena Mas’ud, yang selama ini dikenal sebagai Ketua TP-PKK sekaligus Bunda PAUD Kota Balikpapan, kini menjadi salah satu nama yang paling kuat dikaitkan dengan Partai Golkar. Sejumlah figur kemudian muncul sebagai calon pendamping.
Ada Yono Suherman dari Partai NasDem, Eddy Tarmo dari PDIP, Syukuri Wahid dari Partai Gelora, Abdul Hakim Rauf dari NasDem, Muhaimin yang menjabat Kepala Bappeda Kaltim, pengusaha Ahmad Basir, pengusaha Glen Nirwan, Ketua HIPMI Balikpapan Adam Dustin Bhakti, serta pendidik Joy Nashar Utamajaya.
Namun, satu nama lain yang sebenarnya layak mendapat perhatian lebih adalah H Yusri.
Saat ini H Yusri menjabat Ketua Komisi III DPRD Kota Balikpapan. Ia juga merupakan Ketua LPM Damai Bahagia. Dua posisi tersebut memberikan modal politik yang tidak bisa dianggap kecil.
Terutama jika bicara basis masyarakat.
H Yusri memiliki kedekatan dengan berbagai kelompok masyarakat, mulai pemuda, pelaku UMKM hingga masyarakat luas. Basis tersebut menjadi modal sosial yang berbeda dengan karakter kekuatan Nurlena Mas’ud.
Jika Nurlena memiliki kekuatan melalui aktivitas sosial dan jaringan perempuan, H Yusri mempunyai ruang gerak yang lebih dekat dengan masyarakat di tingkat bawah melalui aktivitas legislatif dan kemasyarakatan.
Di sinilah duet Nurlena-H Yusri menjadi menarik untuk dibaca sebagai sebuah kemungkinan politik.
Bukan semata-mata pasangan untuk memenuhi kebutuhan koalisi. Tetapi bisa menjadi kombinasi dua karakter kekuatan yang berbeda.
Nurlena membawa modal sosial dan citra kepemimpinan humanis. H Yusri membawa pengalaman legislatif, jaringan masyarakat, serta pemahaman terhadap persoalan teknis pembangunan.
Ia dikenal terbuka dan responsif terhadap berbagai isu yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti sarana pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur dasar.
Dengan kata lain, jika Nurlena menjadi representasi pendekatan sosial, H Yusri dapat menjadi representasi teknokratis dan politik akar rumput.
Ini yang membuat nama H Yusri tidak boleh hanya ditempatkan sebagai nama tambahan dalam daftar kandidat pendamping Nurlena.
Sebab, politik tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling cepat muncul di permukaan.
Kadang, figur yang awalnya terlihat samar justru memiliki ruang manuver paling besar ketika peta koalisi mulai terbentuk.
Apalagi, H Yusri berasal dari lingkungan Golkar. Kehadirannya berpotensi memberikan warna baru bagi mesin politik partai, khususnya di wilayah Balikpapan Selatan.
Seorang tokoh masyarakat, H Masdi, bahkan melihat bahwa saat ini nama Nurlena masih menjadi figur yang paling kuat dari Golkar. Sementara posisi H Yusri dinilainya masih dalam tahap melihat perkembangan.
"Kalau saat ini H Yusri belum terlihat, saya belum tahu karena banyak tokoh saat ini yang muncul, kalau dari Golkar paling kuat Ibu Nurlena Mas’ud, kalau H Yusri belajar dulu, tapi politik tidak tahu saat ini semua bisa terjadi," ujar H Masdi.
Kalimat terakhir itu justru menarik: semua bisa terjadi.
Sebab, panggung politik Balikpapan belum sampai pada tahap finalisasi.
Persepsi bahwa Nurlena merupakan kandidat terkuat juga tidak muncul tanpa alasan. Konsolidasi jejaring keluarga Mas’ud selama ini cukup kuat.
Rahmad Mas’ud bukan hanya suami Nurlena, tetapi juga Ketua DPD Partai Golkar Balikpapan. Pengaruh keluarga Mas’ud pun membentang luas di Kalimantan Timur.
Hubungan Rahmad dengan pimpinan partai politik di tingkat daerah maupun pusat relatif cair dan minim resistensi.
Gaya politik akomodatif yang selama ini dimainkan Rahmad juga membuat komunikasi dengan partai politik lain tetap terjaga. Ditambah jaringan bisnis, hubungan sosial, serta dukungan logistik yang mapan, modal tersebut menjadi fondasi penting bagi langkah politik Nurlena menuju kursi Balikpapan satu.
Nurlena sendiri mempunyai modal sosial yang kuat di tingkat grassroots.
Aktivitasnya memimpin Tim Penggerak PKK dan Dekranasda, termasuk penguatan literasi serta penanganan stunting, membuatnya cukup dikenal di kalangan ibu-ibu dan penggerak ekonomi kreatif lokal.
Nurlena memperlihatkan wajah kepemimpinan yang humanis.
Namun, kekuatan itu akan semakin lengkap apabila disandingkan dengan figur yang mempunyai basis politik dan pengalaman legislatif.
Di titik inilah H Yusri kembali relevan.
Nurlena dan H Yusri bisa dibaca sebagai kombinasi sosial-politik dan teknokratis.
Tentu, ini masih sebatas opini dan kalkulasi politik. Belum ada keputusan resmi. Nama H Yusri juga bukan satu-satunya opsi.
Golkar masih memiliki banyak kemungkinan. Bahkan, Golkar tidak harus memonopoli panggung secara sepihak.
Ruang koalisi tetap terbuka bagi partai-partai lain. NasDem memiliki tujuh kursi, PDIP empat kursi, PKS tiga kursi, dan PKB empat kursi.
Partai-partai tersebut bukan tidak mungkin memilih merapat dan melebur dalam koalisi besar yang dimotori Golkar demi mengamankan posisi strategis.
Jika itu terjadi, maka komposisi pasangan dan pembagian kekuatan tentu akan menjadi pembicaraan tersendiri.
Dan di situlah posisi H Yusri kembali menarik.
Ia tidak hanya harus dibaca sebagai calon pendamping. Ia juga bisa menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat penetrasi Golkar di basis masyarakat tertentu.
Sementara itu, satu teka-teki besar lainnya masih berada di tangan Partai Gerindra.
Gerindra memiliki enam kursi parlemen dan saat ini menjadi partai pengusung Wakil Wali Kota Balikpapan Bagus Susetyo.
Pertanyaannya, ke mana arah angin Gerindra?
Apakah tetap memilih berada dalam koalisi keberlanjutan bersama Golkar?
Atau justru menempatkan Bagus Susetyo untuk membangun poros baru sebagai penantang utama?
Belum ada jawaban.
Yang pasti, politik Balikpapan masih sangat cair.
Nurlena memang sedang berada di radar teratas. Tetapi jangan terlalu cepat menutup buku terhadap nama-nama lain.
Termasuk H Yusri.
Dalam politik, nama yang belum banyak dibicarakan hari ini bisa saja menjadi nama yang paling banyak diperhitungkan besok.
Dan jika Golkar benar-benar ingin membangun pasangan yang memiliki kombinasi modal sosial, basis masyarakat, pengalaman legislatif, serta kemampuan menjaga kesinambungan pembangunan, maka H Yusri layak ditempatkan bukan sebagai nama pelengkap, melainkan sebagai salah satu kartu yang patut dimainkan.
Bola politik Kota Beriman baru mulai menggelinding. Siapa yang akhirnya menjadi pasangan siapa, masih menjadi teka-teki.
Tetapi satu hal sudah jelas: H Yusri mulai layak diperhitungkan. (*/mto)
Tulis Komentar