Porosnusantaranews,BALIKPAPAN — Rencana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang akan menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar (SD) mulai 2027 mendapat respons positif dari DPRD Kota Balikpapan.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Balikpapan, Hj Iim Rahman, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan tersebut. Menurut dia, penguasaan Bahasa Inggris sejak dini penting karena telah menjadi bahasa internasional yang digunakan luas di berbagai sektor, mulai pendidikan, teknologi, hingga komunikasi global.
Meski demikian, ia mengingatkan agar penerapan kebijakan tersebut tidak sampai menggeser peran Bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan.
“Bahasa Inggris itu memang bahasa dunia, tapi tetap harus bahasa ibu, yaitu Bahasa Indonesia, yang diperkuat,” ujarnya saat dimintai tanggapan, pada Senin (18/5/2026).
Ia menegaskan, kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar tetap menjadi dasar penting dalam pembentukan karakter, budaya, serta identitas bangsa.
Hj Iim juga menyoroti mulai maraknya penggunaan bahasa campuran di kalangan anak-anak saat ini yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama, baik oleh sekolah maupun orang tua.
“Tetap saya minta agar Bahasa Indonesia lebih diperkuat. Bayangkan saja anak-anak sekarang bahasa Indonesianya sudah campur-campur,” katanya.
Politisi perempuan tersebut menilai pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia seharusnya dapat berjalan seimbang. Di satu sisi, siswa diharapkan mampu berkomunikasi secara global, namun di sisi lain tetap memiliki pemahaman dan kecintaan terhadap bahasa nasional sebagai identitas bangsa.
Ia turut mengapresiasi langkah Kemendikdasmen yang menyiapkan pelatihan bagi guru sebelum penerapan kebijakan tersebut. Menurutnya, kesiapan tenaga pendidik menjadi kunci agar program berjalan efektif dan tidak membebani sekolah.
“Kalau memang nanti diterapkan wajib, tentu gurunya juga harus benar-benar siap. Jangan sampai programnya bagus, tetapi tenaga pendidiknya belum siap,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan agar pelatihan diberikan kepada guru yang memang memiliki kompetensi di bidang Bahasa Inggris, sehingga proses pembelajaran dapat lebih optimal.
“Kalau memang disiapkan pelatihannya, sebaiknya diberikan kepada guru yang memang bidangnya. Jangan sampai guru mengajarnya campur-campur, artinya khusus untuk pelajaran Bahasa Inggris saja,” pungkasnya. (mto)
Tulis Komentar