Iklan Dua

Kampung Organik Brenjonk Trawas Jadi Percontohan Pertanian Organik, Produk Tembus Pasar Modern

$rows[judul]
Porosnusantaranews,MOJOKERTO – Kampung Organik Brenjonk di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, terus menunjukkan kiprahnya sebagai salah satu sentra pertanian organik berbasis pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya menjadi tempat belajar pertanian sehat, kawasan ini juga berhasil menembus pasar modern hingga meraih berbagai penghargaan nasional.

Direktur sekaligus Inisiator Kampung Organik Brenjonk,
Slamet, mengatakan kawasan tersebut dibangun dengan konsep ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Bahkan, akses jalan menuju lokasi sengaja dibatasi maksimal 2,5 meter sesuai aturan pemerintah daerah agar lahan persawahan tetap terjaga.

“Kami ingin sawah tetap lestari dan tidak habis untuk pembangunan jalan. Jadi pengunjung tetap bisa menikmati hamparan padi sekaligus belajar pertanian organik,” ujarnya saat menerima kunjungan Bank Indonesia Balikpapan bersama wartawan ekonomi Balikpapan, pada Jumat (22/5/2026).

Menurut Slamet, Brenjonk bukan sekadar satu kampung wisata, melainkan komunitas pertanian organik yang anggotanya tersebar di beberapa desa. Para petani diberikan pelatihan, pendampingan, hingga sertifikasi organik agar produk mereka memiliki daya saing lebih tinggi.



Produk hasil pertanian organik dari Brenjonk kini dipasarkan ke sejumlah pasar premium dan supermarket modern di Jawa Timur. Salah satunya masuk ke jaringan 44 toko Super Indo, serta sejumlah supermarket lain seperti Papaya dan berbagai pasar modern lainnya.

“Kami ingin petani kecil, termasuk ibu rumah tangga di desa, bisa mengakses pasar yang lebih luas dengan produk bernilai tinggi,” katanya.

Raih Penghargaan hingga Kalpataru

Upaya pengembangan pertanian organik tersebut membuahkan berbagai penghargaan. Pada 2014, Brenjonk menerima penghargaan karya penanggulangan kemiskinan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Kemudian pada 2024 memperoleh penghargaan Kalpataru berkat kontribusi dalam pelestarian lingkungan dan pengendalian perubahan iklim.

Slamet menjelaskan, sistem pertanian organik yang diterapkan merupakan sistem tertutup yang memanfaatkan seluruh sumber daya di sekitar lahan tanpa ketergantungan input dari luar.

Jerami sisa panen, misalnya, tidak dibakar tetapi diolah kembali menjadi kompos agar tidak menghasilkan emisi gas karbon penyebab pemanasan global. Selain itu, limbah ternak sapi dan kambing juga difermentasi menggunakan mikroba untuk dijadikan pupuk alami.

“Kami memiliki laboratorium mikroorganisme hayati yang mampu mengembangkan sembilan jenis mikroba. Mikroba ini membantu menyediakan unsur hara alami bagi tanaman,” jelasnya.

Harga Produk Organik Lebih Tinggi

Brenjonk juga mengembangkan diversifikasi produk pertanian, mulai dari beras putih, merah, hitam, cokelat hingga pandan wangi. Produk-produk tersebut dipasarkan sebagai beras premium organik dengan harga lebih tinggi dibanding beras biasa.

Untuk beras putih organik dijual sekitar Rp17 ribu per kilogram, beras merah Rp25 ribu, dan beras hitam mencapai Rp30 ribu per kilogram. Beras merah dan hitam banyak diminati karena dianggap lebih sehat dan rendah gula.

“Biasanya pelanggan beras merah itu untuk kebutuhan diet dan penderita diabetes,” ujarnya.

Tidak hanya padi, kelompok tani Brenjonk juga mengembangkan sayuran organik seperti bayam, sawi, cabai hingga pakcoy. Sayuran tersebut dikemas modern sebelum dikirim ke pasar retail modern.

Menurut Slamet, nilai jual produk meningkat signifikan setelah dilakukan pengemasan dan branding. Bayam organik misalnya, yang biasanya hanya dijual sekitar Rp6 ribu per kilogram, dapat meningkat hingga Rp25 ribu setelah dikemas dalam ukuran kecil untuk pasar premium.

Didukung Bank Indonesia

Pengembangan Kampung Organik Brenjonk turut mendapat pendampingan dari Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur sejak 2018. Dukungan diberikan melalui program penguatan sumber daya manusia, sekolah lapang pertanian organik, hingga bantuan sarana dan prasarana pengemasan produk.

Selain itu, bantuan infrastruktur seperti pompa air dan fasilitas aula pelatihan juga diberikan untuk mendukung kegiatan edukasi dan pengembangan kelembagaan petani.

“Kami mencoba membangun sistem pertanian dari hulu sampai hilir agar keuntungan tidak hanya dinikmati tengkulak, tetapi kembali ke petani,” katanya.

Destinasi Wisata Edukasi Organik

Selain menjadi sentra pertanian, Kampung Organik Brenjonk kini berkembang menjadi destinasi wisata edukasi di kawasan Trawas.

Terletak di lereng Gunung Penanggungan, suasana kampung ini dikenal sejuk dan alami. Pengunjung dapat belajar langsung mengenai pertanian organik, pengolahan kompos, pengelolaan limbah, hingga pola hidup sehat berbasis pangan organik.

Berbagai tanaman organik seperti tomat, cabai, bayam, terong, mentimun hingga kangkung dibudidayakan di kawasan tersebut. Hasil panen tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga dipasarkan ke restoran dan pasar modern.

Kampung Organik Brenjonk juga dilengkapi taman bunga, aula edukasi, gazebo, area makan, spot foto, hingga rumah pengemasan sayur yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan pelajar. (mto) 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)