Porosnusantaranews,MOJOKERTO – Desa Wisata Ketapanrame di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, sukses mengubah potensi alam pegunungan menjadi sumber ekonomi warga. Berada di lereng Gunung Penanggungan dan Welirang, desa ini tak hanya mengandalkan panorama wisata, tetapi juga menggerakkan investasi gotong royong masyarakat melalui BUMDes.
Konsep itu membuat warga tidak sekadar menjadi penonton perkembangan pariwisata. Mereka ikut memiliki dan menikmati hasilnya. Lewat program urun dana, setiap kepala keluarga diberi kesempatan membeli hingga 10 slot investasi senilai Rp 1 juta per slot. Dari skema tersebut terkumpul dana sekitar Rp 4,6 miliar untuk mengembangkan destinasi wisata Sumber Gempong dan Taman Ghanjaran di Dusun Sukarame.
Kepala Desa Ketapanrame H Zainul Arifin mengatakan, keterlibatan warga menjadi kunci keberhasilan desa wisata tersebut.
“Warga yang ikut investasi bisa memperoleh dividen minimal Rp 500 ribu per bulan. Saat musim libur dan Lebaran, keuntungannya bahkan bisa mencapai Rp 3,5 juta,” ujarnya saat menerima kunjungan Bank Indonesia Balikpapan bersama wartawan ekonomi Balikpapan, pada Jumat (22/5/2026).
Desa yang dihuni sekitar 5.600 jiwa itu sebelumnya mayoritas bergantung pada sektor pertanian dan usaha kecil. Namun sejak ditetapkan sebagai desa wisata melalui SK Bupati Mojokerto pada 2020, Ketapanrame berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan di Trawas.
Salah satu ikon wisatanya adalah Sumber Gempong. Kawasan ini menawarkan panorama persawahan, udara pegunungan, hingga wisata edukasi kopi khas Trawas. Pada hari biasa, jumlah pengunjung mencapai 200–300 orang per hari. Saat akhir pekan dan libur panjang, wisatawan bisa membludak hingga 2.000 orang.
Dengan tiket masuk Rp 8 ribu untuk dewasa dan Rp 5 ribu bagi anak-anak, wisata ini menjadi alternatif rekreasi murah bagi masyarakat.
Tak hanya menjual panorama alam, Ketapanrame juga memiliki nilai sejarah dan spiritual. Menurut Zainul, kawasan tersebut sejak masa Airlangga dikenal sebagai lokasi ritual dan spiritual.
“Di sini banyak situs bersejarah, termasuk Pemandian Gendol yang memiliki sumber air suci dan sering dikunjungi masyarakat dari Bali,” katanya.
Selain wisata alam, BUMDes Ketapanrame juga mengembangkan kopi khas Trawas yang ditanam di lereng Gunung Welirang. Dua jenis kopi yang dipasarkan adalah arabika dan robusta. Produk tersebut kini menjadi salah satu oleh-oleh favorit wisatawan dan telah mengantongi legalitas halal dengan dukungan Bank Indonesia KPw Jawa Timur.
“Kopi ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Belanda. Sekarang kami kembangkan lagi agar punya nilai ekonomi lebih besar bagi warga,” jelasnya.
Keberhasilan pengelolaan wisata desa berdampak langsung pada pendapatan BUMDes. Pada 2024, laba bersih tercatat mencapai sekitar Rp 4 miliar. Meski pada 2025 turun menjadi Rp 2 miliar, pengelola optimistis pendapatan kembali naik menjadi Rp 2,3 miliar pada 2026.
Prestasi Ketapanrame juga mendapat pengakuan nasional. Desa ini meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik Nasional 2023 dari Kementerian Pariwisata serta penghargaan desa wisata terbaik dari Kementerian Desa PDT.
Dukungan pengembangan turut datang dari Bank Indonesia sejak 2024. Bantuan yang diberikan meliputi pembangunan prasarana wisata, penunjuk arah, gazebo, alat operasional kasir, hingga fasilitas pengolahan kopi.
Zainul menjelaskan, sebelumnya wisatawan sering kesulitan menemukan lokasi wisata. Kini, dengan dukungan BI, penunjuk arah dipasang mulai akses masuk Trawas hingga area wisata dan fasilitas umum desa.
Selain itu, BI juga membangun gazebo di sejumlah titik untuk menunjang kenyamanan pengunjung saat hujan maupun cuaca panas.
“Dulu kami hanya memakai kursi plastik biasa. Sekarang dibantu kursi yang lebih representatif, termasuk perlengkapan operasional dan mesin kasir,” ujarnya.
Di sektor kopi, bantuan BI dinilai sangat membantu peningkatan kualitas produksi. Mulai dari mesin pemilah kopi, mesin pengolahan, oven produk turunan kopi, hingga mesin roasting disediakan untuk mendukung produksi skala besar.
BUMDes juga mendapat bantuan rumah produksi dan genset berkapasitas besar agar seluruh mesin pengolahan dapat beroperasi maksimal.
Tak hanya kopi bubuk dan biji kopi, kini warga mulai mengembangkan produk turunan seperti kukis kopi dan berbagai olahan lainnya. Dengan dukungan tersebut, kapasitas produksi meningkat signifikan.
“Dulu produksi masih puluhan, sekarang sekali oven bisa ribuan,” kata Zainul.
Menurutnya, kehadiran BI juga membuka akses promosi lebih luas. Jika sebelumnya kopi Ketapanrame hanya dikenal di pasar lokal, kini produk mereka mulai rutin mengikuti berbagai event nasional.
Model pengembangan Desa Ketapanrame dinilai menarik karena melibatkan masyarakat sebagai investor sekaligus pelaku utama ekonomi wisata. Konsep wisata berbasis komunitas seperti ini dinilai berpotensi menjadi inspirasi pengembangan desa wisata di berbagai daerah, termasuk kawasan penyangga IKN. (mto)
Tulis Komentar