Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Masjid Tajril Muhajirin, Jalan Proklamasi RT 95, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur, berlangsung khidmat sekaligus meriah, pada Sabtu (22/8/2026) malam selepas salat Isya.
Peringatan yang menghadirkan Ustaz Agus Khoirul Huda, Lc, pengasuh Pondok Pesantren Ibnul Karim Qualita Balikpapan, itu dihadiri jamaah dari lingkungan sekitar masjid. Tak hanya warga setempat, jamaah dari RT 36, 61, 95, dan 97 turut hadir. Termasuk jamaah Majelis Dzikir Nuru Taubah dan masyarakat lainnya.
Mewakili Ketua Panitia Matnadi, Seksi Ibadah Masjid Tajril Muhajirin Ustaz Amin Wahyudi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Hadir pula Ketua Masjid Tajril Muhajirin Haji Ustaz Achmad Musyafik, perwakilan Ketua RT 36, perwakilan Ketua RT 95, perwakilan Ketua RT 97, para tokoh masyarakat, serta jamaah yang hadir.
Dalam sambutannya juga mewakili panitia, Ustaz Amin juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja sama sehingga kegiatan Maulid Nabi dapat terlaksana. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh donatur yang mendukung kegiatan tersebut.
"Berbeda dengan Maulid Nabi sebelumnya, malam ini memang tidak ada gantung-gantungan. Namun jangan khawatir, sudah disiapkan 1.360 telur," ujarnya disambut antusias jamaah.
Telur tersebut, kata dia, diharapkan dapat dibawa pulang jamaah sebagai bagian dari keberkahan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Panitia sekaligus menyampaikan permohonan maaf apabila pelaksanaan kegiatan maupun tempat yang digunakan masih memiliki kekurangan.
Tekankan Esensi Maulid
Sementara itu, Ustaz Agus Khoirul Huda dalam tausiyahnya, mengajak jamaah tidak terjebak pada kemeriahan simbolis Maulid. Menurut dia, telur yang dibagikan kepada jamaah hanyalah pelengkap. Esensi utama peringatan Maulid adalah kembali mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya ketika mengisi ceramah di sejumlah daerah. Menurutnya, bentuk perayaan Maulid setiap tempat berbeda-beda. Ada yang menggunakan buah-buahan hingga berbagai barang sebagai hiasan.
"Orang Tajril Muhajirin kenapa telur? Karena ini yang paling murah, anggarannya segitu," ujarnya dengan gaya humor yang mengundang tawa jamaah.
Namun, ia kembali menegaskan bahwa substansi Maulid bukan pada telur maupun hiasan yang digantung.
"Esensinya mengembalikan kita mencintai Baginda Rasulullah SAW," tegasnya.
Menurut Ustaz Agus, cinta kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus dibuktikan melalui perilaku.
"Cinta tanpa pembuktian adalah klaim. Dan klaim itu tidak ada harganya di mata Allah," katanya.
Ia kemudian memberikan sejumlah perumpamaan. Orang yang mengaku mencintai pasangan, tetapi tidak menafkahinya, menurut dia, belum membuktikan cintanya. Begitu pula seorang ibu yang mencintai anak, tetapi tidak mendidiknya, atau seorang anak yang mengaku mencintai orang tua tetapi tidak mau berkhidmat kepada mereka.
Lantas, bagaimana cara membuktikan cinta kepada Nabi?
Ustaz Agus menjawabnya dengan konsep mutaba'ah, yakni mengikuti Rasulullah SAW.
Ia merujuk Surat Ali Imran ayat 31 yang memerintahkan umat untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW jika benar-benar mencintai Allah. Dengan mengikuti Rasulullah, Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa umat-Nya.
"Mutaba'ah kepada Nabi, mengikuti Nabi, rukunnya ada tiga. Saya menyebutnya dengan istilah ITK," katanya.
Huruf pertama, I, adalah ilmu.
Menurutnya, mutaba'ah tanpa ilmu dapat membuat seseorang tersesat tanpa menyadarinya. Bahkan, ibadah yang dilakukan dengan niat baik dapat menjadi sia-sia apabila tidak dilandasi pengetahuan yang benar.
Ia mengambil contoh seseorang yang melaksanakan salat Zuhur enam rakaat dengan alasan sedang banyak dosa dan ingin mempercepat taubat.
"Niatnya baik atau jelek? Niatnya baik. Caranya benar atau salah? Diterima Allah atau tidak? Tidak," jelasnya.
Ustaz Agus kemudian menjelaskan bahwa diterimanya ibadah memiliki syarat, di antaranya iman, ikhlas, dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.
Ia mencontohkan perbedaan sikap seseorang ketika salat saat diperhatikan orang lain dan ketika tidak ada yang memperhatikannya. Menurut dia, hal tersebut menjadi pengingat pentingnya menjaga keikhlasan dalam beribadah.
Selain iman dan ikhlas, ibadah juga harus sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Salat Zuhur yang semestinya empat rakaat, misalnya, tidak bisa diubah menjadi enam rakaat hanya karena seseorang memiliki niat baik.
Kisah Janda dalam Masa Iddah
Dalam ceramahnya, Ustaz Agus juga mengangkat contoh lain mengenai seorang anak yang mengajak ibunya jalan-jalan setelah ayahnya meninggal dunia.
Niat sang anak sebenarnya baik, yakni ingin menghibur ibunya yang sedang berduka. Namun, ada ketentuan agama yang harus diperhatikan.
Ia menjelaskan mengenai masa iddah bagi perempuan yang ditinggal wafat suami. Selama masa tersebut, seorang perempuan tidak diperbolehkan berhias dan mengenakan wewangian sebagaimana ketentuan yang berlaku, serta memiliki aturan terkait aktivitas di luar rumah.
"Selama berapa lama? Empat bulan sepuluh hari," kata Ustaz Agus sambil kembali berinteraksi dengan jamaah.
Karena itu, menurutnya, niat baik tetap harus disertai pemahaman terhadap aturan agama. Ia menekankan bahwa keinginan menghibur seseorang tidak boleh dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan tuntunan syariat.
Ustaz Agus juga menjelaskan ketentuan lamaran bagi perempuan yang sedang menjalani masa iddah. Lamaran secara terang-terangan tidak diperbolehkan selama masa tersebut, sementara sindiran atau ungkapan yang tidak secara langsung menyatakan lamaran memiliki ketentuan berbeda.
Dengan gaya ceramah yang diselingi humor, Ustaz Agus beberapa kali membuat jamaah tertawa. Namun, di balik guyonan tersebut, ia terus mengarahkan jamaah pada satu pesan utama: kecintaan kepada Rasulullah SAW harus diwujudkan dengan mengikuti ajarannya.
Di akhir penyampaiannya, ia kembali mengingatkan jamaah agar momentum Maulid Nabi tidak sekadar menjadi acara tahunan. Peringatan tersebut harus menjadi sarana memperkuat kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperbaiki kualitas ibadah dan kehidupan sehari-hari.
Dengan begitu, Maulid Nabi bukan hanya tentang kemeriahan acara, tetapi juga tentang sejauh mana umat mampu meneladani dan mengikuti Rasulullah SAW dalam kehidupan. (mto)
Tulis Komentar