Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Pemanfaatan lahan kosong menjadi kawasan urban farming mulai dikembangkan warga Sepinggan Pratama. Inisiatif tersebut digagas forum RT sebagai upaya mendorong kemandirian pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua LPM Sepinggan Baru Wahyullah Bandung mengatakan, urban farming merupakan salah satu cara bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar.
“Jadi ini adalah inisiasi dari forum RT di Sepinggan Pratama untuk memanfaatkan lahan yang ada menjadi urban farming. Urban farming itu adalah bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan pangannya yang bisa dilakukan di lingkungan sekitarnya,” kata Wahyullah Bandung kepada wartawan, pada Minggu (30/8/2026).
Dalam pelaksanaannya, warga mendapat dukungan dari Dinas Pertanian berupa bantuan bibit yang kemudian dibagikan kepada peserta kegiatan. Tak hanya urban farming, kawasan tersebut juga mulai mengembangkan pemilahan sampah secara terpadu.
Wahyullah menegaskan, pemilahan sampah berbeda dengan pengelolaan sampah. Pemilahan dilakukan agar sampah yang dihasilkan warga di kawasan tersebut dapat dikelola terlebih dahulu oleh masyarakat sebelum dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Jadi ada isu lingkungan juga yang coba saya sampaikan. Selain pembangunan nonfisik, ada lingkungan ekologi yang mesti kita perhatikan,” ujarnya.
Menurut dia, inisiatif tersebut telah berjalan lebih dari satu tahun. Namun, sejak awal kegiatan tersebut merupakan usaha warga sendiri. Dirinya hanya memberikan dukungan pada bagian-bagian yang dapat dibantu.
Salah satunya dengan menjadi penghubung antara forum RT dan Dinas Pertanian untuk mendapatkan bantuan bibit. Selain itu, Wahyullah juga membantu menghubungkan warga dengan pihak kelurahan untuk memperoleh SK Bank Sampah Unit.
“Nanti secara mandiri mereka akan mengelola lingkungannya sendiri,” jelasnya.
Menurut Wahyullah, pengelolaan lingkungan oleh masyarakat juga berkaitan dengan persoalan prasarana, sarana, dan utilitas (PSU). Selama ini, pengelolaan PSU menjadi salah satu wacana sekaligus isu yang perlu mendapat perhatian pemerintah.
“Pengelolaan prasarana dan sarana dan utilitas itu menjadi hal yang penting juga untuk kita perbaiki ke depan,” katanya.
Dia optimistis program tersebut dapat berjalan dalam jangka panjang. Terlebih, forum RT di kawasan tersebut telah membentuk sebuah yayasan sebagai wadah pengelolaan kegiatan.
Dalam yayasan tersebut terlibat sejumlah unsur. Mulai dari aktivis lingkungan, perwakilan developer, perwakilan RT, hingga kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Ini kan baru langkah awal. Kalau satu tahun itu baru mulai. Tapi paling tidak semua RT sudah terlibat dalam kegiatan ini. Mereka bergotong royong membuat tempat ini menjadi lebih tertata,” tuturnya.
Saat ini, terdapat empat RT yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Sepinggan Pratama dipilih sebagai lokasi pengembangan salah satunya karena faktor keaktifan RT.
Wahyullah menjelaskan, RT di Sepinggan Pratama terlebih dahulu membentuk forum. Setelah itu, mereka bersama-sama mengajak dirinya selaku Ketua LPM untuk turut mengelola lingkungan yang ada.
Faktor lainnya adalah dukungan dari developer. Pihak developer disebut memberikan, dalam tanda kutip, “meminjamkan” lahan yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempat berbagai kegiatan berkaitan dengan keberlangsungan lingkungan dan ekologi.
Ke depan, program tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi forum RT lain, khususnya di Kelurahan Sepinggan. Wahyullah menilai keberhasilan urban farming dapat diukur dari kemampuan warga menghasilkan tanaman, sayuran, maupun buah-buahan yang bisa dikonsumsi sendiri.
“Kalau urban farming ini sudah menghasilkan buah-buahan atau tanaman atau sayuran yang bisa dikonsumsi oleh mereka dan bisa menghidupi dirinya sendiri, maka itu bisa dikopi oleh forum-forum RT lain,” ujarnya.
Karena itu, dia mendorong agar forum RT tidak berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, sinergi dan kolaborasi antarkelompok RT dalam satu lingkungan dapat melahirkan program yang lebih besar dan berkelanjutan.
“Jangan hanya bekerja sendiri-sendiri. Kalau bisa dalam satu lingkungan ada lima sampai sepuluh RT, membuat forum RT di lingkungannya, baru kemudian membuat program,” katanya.
Sebagai Ketua LPM sekaligus anggota DPRD Kota Balikpapan, Wahyullah juga mendorong masyarakat agar semakin mampu menyelesaikan persoalan di lingkungannya secara mandiri.
“Supaya masyarakat bisa menyelesaikan masalah sendiri di lingkungannya,” pungkasnya. (mto)
Tulis Komentar