Iklan Dua

Berawal dari Doa Ingin Umrah Gratis, Hj Ivon Dirikan Travel Laa Tansa Miroron di Balikpapan

$rows[judul]
Porosnusantaranews,BALIKPAPAN – Keinginan untuk kembali ke Tanah Suci menjadi titik awal perjalanan Hj Herliana Sri Rejeki Asih Ivony dalam merintis usaha perjalanan ibadah umrah. Owner PT Laa Tansa Miroron yang akrab disapa Hj Ivon itu kini mengelola biro perjalanan umrah yang berpusat di Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan mengedepankan pelayanan kepada jamaah layaknya keluarga sendiri.

Kantor PT Laa Tansa Miroron beralamat di Ruko Balikpapan Baru, Blok C Nomor 2, Gunung Samarinda, Balikpapan. Perusahaan tersebut berdiri sendiri setelah sebelumnya menjadi cabang biro perjalanan umrah dari Jakarta selama tujuh tahun.

Hj Ivon mengatakan, keputusan untuk mendirikan kantor pusat di Balikpapan tidak lepas dari dorongan Kementerian Agama (Kemenag), baik di tingkat Kantor Wilayah Provinsi Kalimantan Timur maupun Kemenag Balikpapan.

“Dulu kami pernah menjadi cabang dari salah satu travel di Jakarta selama tujuh tahun. Kemudian, pihak Kemenag, baik Kanwil Provinsi maupun Kemenag Balikpapan, meminta saya agar tidak hanya menjadi cabang, tetapi lebih baik berdiri sendiri. Jadi, kantor pusatnya benar-benar di Balikpapan,” kata Hj Ivon kepada wartawan, pada Minggu (25/10/2026).



PT Laa Tansa Miroron berdiri pada 5 Oktober 2023. Dengan demikian, perusahaan tersebut telah berjalan lebih dari dua tahun dan segera memasuki usia tiga tahun.

Selama menjalankan usaha, Hj Ivon mengaku bersyukur karena banyak jamaah yang sebelumnya pernah berangkat melalui pihaknya kembali mempercayakan perjalanan umrah kepada Laa Tansa Miroron.

Menurut dia, hal itu tidak terlepas dari visi perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada jamaah sebagai bagian dari keluarga, bukan sekadar pelanggan yang menggunakan jasa perjalanan ibadah.

“Alhamdulillah, jamaah kami rata-rata yang sudah pernah berangkat sebelumnya, kalau ingin berangkat lagi, tetap kembali kepada kami. Sebab, di sini kami punya visi melayani jamaah sebagai anggota keluarga. Jadi, bukan sekadar jamaah, melainkan bagaimana kami bisa berumrah bersama keluarga,” ujarnya.

Berawal dari Doa di Tanah Suci

Perjalanan Hj Ivon membangun bisnis perjalanan umrah bermula dari pengalaman pribadinya setelah menunaikan ibadah haji pada 2004.

Saat itu, ia memiliki keinginan kuat untuk kembali ke Tanah Suci. Namun, kondisi keuangan membuat tabungan yang dimilikinya hanya cukup untuk membiayai keberangkatan umrah dua orang.

Keinginan tersebut kemudian ia ungkapkan dalam doa ketika berada di Tanah Suci. Hj Ivon berharap bisa kembali berkunjung ke Baitullah tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri.

“Waktu itu, saya benar-benar ingin sekali umrah. Saya berdoa di depan Kakbah, ‘Ya Allah, saya ingin lagi pergi ke Baitullah, tetapi saya tidak mau bayar. Saya mau gratis. Saya tidak tahu bagaimana caranya, Engkau yang menyiapkan semuanya’,” kenangnya.

Tak disangka, sekitar satu pekan setelah pulang umrah, pemilik biro perjalanan yang sebelumnya memberangkatkannya datang menawarkan kerja sama. Hj Ivon ditawari menjadi mitra cabang di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Namun, ia tidak langsung menerima tawaran tersebut. Bersama suaminya, Hj Ivon terlebih dahulu mempertimbangkan maksud di balik kesempatan yang datang kepadanya.

“Saya dan suami tidak langsung mengiyakan. Kami meminta waktu untuk berdiskusi. Saat itu, kami berpikir, apakah ini cara Allah meminta kami di hari tua untuk melayani umat,” tuturnya.

Keputusan tersebut juga dilatarbelakangi maraknya persoalan biro perjalanan umrah yang tidak memberangkatkan jamaah. Saat itu, kasus yang melibatkan First Travel di Jakarta menjadi salah satu perhatian, disusul persoalan biro perjalanan lainnya.

Kondisi tersebut membuat Hj Ivon ingin memastikan bahwa usaha yang akan dijalankannya benar-benar memiliki manajemen yang sehat dan dapat dipercaya.

Ia pun mendatangi kantor biro perjalanan yang menawarinya kerja sama. Di sana, ia meminta pihak pengelola mempresentasikan perusahaan secara terbuka, termasuk menjelaskan manajemen dan kondisi arus kas.

Menurut Hj Ivon, latar belakang suaminya di bidang manajemen dan keuangan membuat mereka ingin memeriksa kelayakan perusahaan sebelum mengambil keputusan.

“Kami ingin melihat apakah travel umrah ini sehat atau tidak. Sebab, kalau kami menjadi cabang, uang jamaah akan kami setorkan ke kantor pusat. Kalau ternyata kantor pusatnya bermasalah, kami yang akan berhadapan langsung dengan jamaah di Balikpapan,” jelasnya.

Presentasi tersebut berlangsung selama satu hari. Hj Ivon dan suaminya meminta seluruh dokumen perusahaan untuk dipelajari lebih lanjut sebelum akhirnya dibawa pulang.

Minta Nasihat Tiga Orang Tua Angkat

Tidak berhenti pada pemeriksaan dokumen, Hj Ivon juga meminta pertimbangan kepada tiga orang tua angkatnya yang berada di lingkungan Kemenag Balikpapan, Kemenag Samarinda, dan Tenggarong.

Ia mendatangi mereka satu per satu dengan membawa dokumen perusahaan yang akan menjadi mitra usahanya.
Menariknya, ketiganya memberikan pertanyaan yang sama, meskipun tidak saling mengenal.

“Pertanyaan mereka satu, ternyata sama, padahal mereka tidak saling kenal. Tujuanmu apa untuk ini?” ungkap Hj Ivon.

Ia menjawab bahwa tujuan utamanya adalah membantu jamaah menjalankan ibadah umrah dengan aman, sekaligus memberikan edukasi agar masyarakat tidak terjebak biro perjalanan yang tidak amanah.

Hj Ivon ingin calon jamaah memahami kondisi dan mekanisme perjalanan umrah sebelum benar-benar mendaftar. Dengan begitu, mereka tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga memastikan keamanan dan kredibilitas biro perjalanan yang dipilih.

Menurut dia, ketiga orang tua angkatnya memberikan pesan yang senada. Jika tujuannya untuk melayani umat, ia dipersilakan melanjutkan niat tersebut. Namun, jika semata-mata ingin mencari kekayaan, usaha itu sebaiknya tidak dijalankan.

“Dari dokumen yang ada, insya Allah travel-nya bagus. Tetapi, kalau kamu mau mencari kekayaan di sini, lebih baik tidak usah,” katanya, mengingat pesan ketiga orang tua angkatnya.

Pesan tersebut semakin menguatkan keputusan Hj Ivon bersama suaminya untuk menjalankan usaha perjalanan umrah dengan orientasi pelayanan dan ibadah.

“Bismillah, ayo di hari tua kita benar-benar mencari tabungan. Tetapi, tabungannya bukan dunia, melainkan akhirat. Itu yang harus kita siapkan dari sekarang. Kalau tujuan kita akhirat, insya Allah urusan dunia akan mengikuti,” ujarnya.

Persaingan Travel Umrah Kian Ketat

Dalam perkembangannya, Hj Ivon melihat persaingan usaha perjalanan umrah di Balikpapan semakin ketat. Jumlah biro perjalanan yang masuk ke pasar lokal terus bertambah.

Ia menilai, masyarakat perlu lebih berhati-hati karena menurut pengamatannya, masih ada pihak yang menawarkan jasa perjalanan umrah tanpa kelengkapan perizinan yang semestinya, termasuk izin untuk kantor pusat maupun status penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah.

Bahkan, kata dia, ada pihak yang mengandalkan mitra di daerah yang sebelumnya pernah menjalankan ibadah umrah untuk menawarkan jasa kepada masyarakat.

Kondisi tersebut turut memengaruhi persaingan bisnis perjalanan umrah. Meski demikian, Hj Ivon bersyukur Laa Tansa Miroron masih memperoleh kepercayaan jamaah dan tetap menjalankan pemberangkatan secara berkala.

Ia mencontohkan, salah satu rombongan yang pernah diberangkatkan berasal dari Kodam VI/Mulawarman dengan jumlah sekitar 50 jamaah. Sebelumnya, pihaknya juga memberangkatkan rombongan yang terdiri atas sekitar 35 jamaah.

Jumlah jamaah dalam sejumlah keberangkatan sebelumnya bahkan pernah mencapai 100 orang. Pada periode tertentu, Laa Tansa Miroron dapat memberangkatkan sekitar 45 jamaah pada satu hari, kemudian sekitar 25 hingga 35 jamaah pada keberangkatan berikutnya.

“Alhamdulillah, masih ada saja keberangkatan. Sebelumnya, ketika travel umrah belum sebanyak sekarang dan belum ada umrah mandiri seperti saat ini, kami bisa memberangkatkan 45 jamaah, kemudian 35 jamaah, dan minggu berikutnya 45 jamaah lagi,” paparnya.

Hj Ivon mengatakan, jadwal keberangkatan tetap diupayakan tersedia setiap bulan. Namun, jumlah jamaah dan waktu keberangkatan dapat berubah mengikuti situasi yang dihadapi.

Salah satu tantangan yang belakangan muncul adalah kondisi di Timur Tengah yang memengaruhi persaingan memperoleh jadwal penerbangan. Menurut dia, pada periode tertentu, pihaknya harus bersaing mendapatkan ketersediaan kursi penerbangan, termasuk pada layanan Garuda Indonesia dan Saudia (Saudi Arabian Airlines).

Ia mencontohkan, keberangkatan yang semula direncanakan pada awal November akhirnya harus disesuaikan karena keterbatasan ketersediaan penerbangan. Pihaknya kemudian memperoleh jadwal keberangkatan pada Oktober.

Edukasi Jamaah agar Tak Tergiur Harga Murah

Di tengah persaingan tersebut, Laa Tansa Miroron berupaya mengenalkan layanan sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pemilihan biro perjalanan umrah.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengundang masyarakat untuk menghadiri kegiatan pengenalan perusahaan. Dalam kegiatan itu, pihaknya memaparkan profil Laa Tansa Miroron, layanan yang diberikan, serta hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mendaftar umrah.

Hj Ivon mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran harga murah maupun janji fasilitas tertentu tanpa memeriksa rekam jejak biro perjalanan yang bersangkutan.

Menurut dia, harga murah atau mahal tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran dalam memilih penyelenggara umrah. Calon jamaah perlu memastikan keberadaan kantor, kejelasan pengelola, legalitas, serta kemampuan perusahaan memberikan pelayanan ketika terjadi persoalan.

“Jangan mudah diiming-imingi harga murah atau fasilitas tertentu. Kita harus melihat rekam jejak travel tersebut. Kalau mereka tidak punya kantor, ketika ada apa-apa, kita mau datang kepada siapa?” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada promosi yang menjanjikan bonus keberangkatan umrah gratis atau penawaran lain yang terdengar menggiurkan, tanpa memastikan terlebih dahulu apakah janji tersebut benar-benar dapat dipenuhi.

Bagi Hj Ivon, edukasi kepada jamaah menjadi bagian penting dari pelayanan. Ia ingin masyarakat memahami kondisi di lapangan sebelum memutuskan menggunakan jasa perjalanan umrah, sehingga dapat menghindari risiko yang merugikan.

Hotel Dekat Masjidil Haram Jadi Perhatian

Dalam memberikan pelayanan, Laa Tansa Miroron berupaya menyesuaikan fasilitas dengan kebutuhan dan kemampuan anggaran jamaah. Hj Ivon mengatakan, pihaknya tidak semata-mata mengandalkan persaingan harga, tetapi berusaha menjaga kualitas layanan yang diberikan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah lokasi hotel di Tanah Suci. Menurut dia, pengaturan hotel dilakukan melalui pihak yang mengurus kebutuhan akomodasi di Arab Saudi.

Meski lebih sering menggunakan hotel bintang tiga, ia menegaskan bahwa lokasi hotel, khususnya di Makkah, menjadi pertimbangan penting. Pihaknya berupaya memilih hotel bintang tiga yang memiliki jarak dekat dengan Masjidil Haram.

“Walaupun kami lebih sering menggunakan hotel bintang tiga, khusus di Makkah, hotelnya kami upayakan dekat dengan Masjidil Haram,” jelasnya.

Biaya Umrah Mulai Rp 33 Juta

Terkait biaya perjalanan, Hj Ivon menjelaskan bahwa harga paket umrah di Laa Tansa Miroron menyesuaikan musim keberangkatan dan ketersediaan layanan.

Pada periode September hingga Oktober, misalnya, harga yang ditawarkan relatif tidak jauh berbeda. Namun, memasuki pertengahan November, harga mulai mengalami kenaikan. Kenaikan biasanya berlanjut pada Desember dan akhir tahun, kemudian semakin terasa ketika mendekati Ramadan.

“Semakin mendekati Ramadan, harganya semakin mahal. Saat Ramadan, biayanya memang tinggi,” katanya.

Untuk paket dengan fasilitas hotel bintang tiga, Hj Ivon menyebut kisaran harga yang ditawarkan sebelumnya berada di angka Rp 33 juta hingga Rp 37 juta per jamaah.

Meski demikian, perusahaan juga melayani permintaan perjalanan umrah secara privat. Layanan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan keluarga atau kelompok kecil yang ingin berangkat bersama tanpa harus mengikuti rombongan besar.

Ia mencontohkan, ada calon jamaah yang ingin berangkat hanya bersama suami, istri, dan anak. Mereka menyampaikan anggaran serta fasilitas yang diinginkan, kemudian pihak travel menghitung kemungkinan paket yang sesuai.

“Kalau ada yang ingin privat, misalnya hanya suami, istri, dan anak, mereka menyampaikan punya anggaran sekian dan ingin fasilitas tertentu. Kami hitungkan. Kalau sesuai, mereka bisa berangkat,” ujarnya.

Menurut Hj Ivon, layanan privat tetap dapat diberikan meskipun jumlah jamaah hanya sedikit, termasuk bagi mereka yang ingin menentukan jadwal perjalanan sendiri.

Selama jadwal tersebut berada di luar musim haji dan kebutuhan perjalanan dapat dipenuhi, Laa Tansa Miroron berupaya mengakomodasi permintaan jamaah.

Melalui pelayanan yang mengedepankan pendekatan kekeluargaan, edukasi, serta perhatian terhadap kebutuhan jamaah, Hj Ivon berharap Laa Tansa Miroron dapat terus menjadi pilihan masyarakat Balikpapan untuk menjalankan ibadah umrah dengan aman dan nyaman. (*/mto)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)