Iklan Dua

Dorong Pertumbuhan Ekonomi Tanpa Merusak Alam

$rows[judul]
Porosnusantaranews,BERAU – Kabupaten Berau tidak ingin pembangunan pariwisata hanya bertumpu pada pesona wisata kepulauan. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai memperluas orientasi pengembangan destinasi dengan mendorong ekowisata sebagai kekuatan baru untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mempertahankan kelestarian lingkungan.

Langkah tersebut dinilai penting mengingat sebagian besar kekuatan pariwisata Berau berada pada kekayaan alam dan budaya yang rentan terdampak apabila pengelolaannya tidak dilakukan secara berkelanjutan.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan pengembangan destinasi harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan karakter dan keaslian lingkungan yang menjadi daya tarik utama.

Menurutnya, konsep pariwisata berkelanjutan menjadi pilihan yang relevan dengan kondisi geografis Berau. Pengelolaan destinasi tidak hanya mengejar peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga memastikan lingkungan tetap terjaga.

“Pemkab Berau menyambut baik langkah bersama ini demi mewujudkan sektor pariwisata berkelanjutan, yang tentu harus dibarengi kesadaran tinggi menjaga keasrian destinasi,” tegasnya.

Saat ini, Berau memiliki 18 desa wisata dan 225 destinasi wisata yang tersebar di berbagai wilayah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 159 merupakan wisata alam, 39 wisata budaya, dan 27 wisata buatan.

Besarnya potensi tersebut membuka peluang pengembangan pariwisata dengan berbagai pendekatan. Tidak hanya mengandalkan wisata bahari, pemerintah juga mulai memberikan perhatian lebih terhadap destinasi yang menawarkan pengalaman berinteraksi langsung dengan alam dan kehidupan masyarakat lokal.

Beberapa di antaranya adalah ekowisata mangrove di Teluk Semanting dan wisata Kampung Rotan di Long Beliu. Pengembangan destinasi semacam ini dinilai memiliki nilai tambah karena wisatawan tidak sekadar datang menikmati pemandangan, tetapi juga dapat mengenal lingkungan, budaya, serta aktivitas masyarakat setempat.

Sri Juniarsih melihat perubahan tren wisata menjadi peluang bagi Berau. Konsep back to nature atau kembali ke alam semakin diminati wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Kondisi tersebut sejalan dengan karakter Berau yang memiliki bentang alam mulai dari kawasan pesisir, kepulauan, hutan hingga kekayaan budaya masyarakat.

“Dampak pengembangan ini sangat luar biasa, sehingga ke depan Berau tidak hanya dikenal dengan keindahan wisata kepulauannya saja, tetapi juga keunggulan ekowisatanya,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah daerah tidak ingin pengembangan ekowisata berjalan sendiri. Dukungan berbagai pihak, termasuk Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), dinilai menjadi bagian penting dalam membangun pariwisata yang memiliki perspektif konservasi.

Konsep tersebut juga diharapkan mampu membuka ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk terlibat dalam rantai ekonomi pariwisata. Pelaku usaha lokal, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Badan Usaha Milik Kampung (BUMK), hingga masyarakat dapat mengambil peran dalam penyediaan jasa, produk lokal, maupun pengelolaan destinasi.

Namun, bertambahnya aktivitas wisata juga membawa tantangan tersendiri. Salah satunya adalah persoalan kebersihan dan pengelolaan sampah yang berpotensi meningkat seiring bertambahnya jumlah pengunjung.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkab Berau mulai menyiapkan dukungan infrastruktur kebersihan, termasuk pengadaan armada truk sampah dan penyusunan Detail Engineering Design (DED) Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di kawasan pesisir.

Selain kebersihan, fasilitas penunjang aktivitas wisata juga diarahkan agar lebih ramah lingkungan. Penyiapan sarana jelajah di kawasan wisata menjadi salah satu upaya untuk mengendalikan aktivitas pengunjung sehingga tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap ekosistem darat maupun bahari.

Pemkab Berau menilai keberhasilan pariwisata berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Pengelola destinasi dan masyarakat yang bersentuhan langsung dengan aktivitas wisata memiliki peran yang sama pentingnya.

Karena itu, para pelaku usaha, Pokdarwis, BUMK dan masyarakat diminta tidak hanya memanfaatkan potensi alam sebagai sumber pendapatan, tetapi juga ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungannya.

Sri Juniarsih mengingatkan, nilai ekonomi yang lahir dari sektor pariwisata tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan lingkungan.

“Kita boleh memanfaatkan keindahan hutan demi mendapatkan keuntungan ekonomi, namun jangan pernah lupa menjaga kelestarian ekosistemnya agar tetap bermanfaat hingga masa mendatang,” pungkasnya. (adv)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)